BEGINILAH CARA SAYA BERLATIH



Gobind Vashdev - Jadikanlah mereka yang mengkritik, mencela atau memaki kita sebagai sparing partner untuk menjelajah ke dalam diri, sebagai ruang kelas dimana kita bisa menggali ke dalam diri. Ambillah waktu untuk menyadari pikiran dan perasaan yang sedang teraduk-aduk itu.
Kalau kita marah atau kesal walau dalam hati, artinya kita belum sampai pada tahap mengerti atau memahami, bukannya ini adalah waktu yang tepat untuk berlatih?
Beginilah cara saya berlatih. Setiap kali saya memposting status saya selalu mengingatkan diri saya bahwa semakin banyak status di share maka akan ada lebih banyak ketidaksetujuan yang hadir di ruang komen. Seperti gunung dan lembah, keduanya adalah konsekuensi yang tak dapat dipisahkan dan tidak ada jalan lain kita perlu belajar untuk menerima kedua sisi berlawanan tersebut.
Secara subjektif saya melihat sahabat-sahabat di facebook yang lama berteman dan sering membaca status-status saya sebelumnya cenderung untuk setuju dan mengerti, mungkin para sahabat ini sudah mengenal diri saya langsung atau cara saya berpikir dan memandang.
Sementara hal yang sebaliknya, acapkali kritikan dan celaan terlontar dari teman yang mempunyai teman dan mempunyai teman lainnya. artinya mereka ini tidak hanya jauh secara pertemanan tapi juga jarang membaca status saya bahkan mendengar nama saya.
Tatkala saya tersinggung atau meradang, saya mengambil waktu untuk memadamkan kebakaran saya, bukan melarikan diri dengan kesibukan atau bersenang-senang atau mencari pembenaran atau berdiskusi dengan sahabat luar melainkan melakukan dialog dengan hati yang sedang membara tersebut.
Waktunya bisa 1 jam, bisa 1 hari atau 1 minggu, setelahnya saya kembali melihat kritikan tersebut dan mengecek perasaan saya, bila sudah netral nan damai, saya mulai menjelajah keluar, mengecek status-status orang yang mengkritik tulisan atau pandangan saya.
Lagi-lagi bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk meluaskan pemahaman saya terhadap pandangan orang lain. saya sadar bahwa setiap kali saya marah itu bukan karena orang lain, bukan karena celaan atau makian, melainkan karena sempitnya sudut pandang saya.
Untuk itu saya sangat-sangat berterima kasih bukan hanya pada semua sahabat yang me-like atau memuji melainkan juga pada sahabat lain yang tidak setuju, karena merekalah saya mendapat guru, sarana dan kesempatan untuk meluaskan pemahaman diri.

"Saya belajar diam dari yang cerewet, saya belajar toleran dari yang tidak toleran, saya belajar baik dari yang jahat, namun anehnya saya tidak pernah berterima kasih pada guru-guruku ini." - Khalil Gibran

No comments:

Post a Comment